Seputar Sentolo

Friday, 22 February 2019

GERTAK PSN, gebrakan baru di Sentolo, Kulon Progo untuk atasi masalah DBD



SENTOLO.COM – Hari Jumat pagi tadi tanggal 22 Pebruari 2019, Kecamatan Sentolo telah mengawali Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk atau GERTAK PSN. Sebuah kebijakan baru Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo dalam upaya mengatasi masalah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang di awal tahun 2019 ini menunjukkan indikasi adanya peningkatan kasus di beberapa wilayah. Gerakan ini melibatkan berbagai pihak antara lain Kecamatan Sentolo, Puskesmas Sentolo 1 dan Sentolo 2, Polsek Sentolo, Koramil Sentolo, Pemerintah Desa se Kecamatan Sentolo, sekolah-sekolah di semua tingkatan serta warga masyarakat umum lainnya.

Selama 4 hari berturut-turut Tim Pokjanal Gertak PSN Kecamatan Sentolo akan mensosialisasikan Gertak PSN ke 8 Desa dengan metode siaran keliling ke lokasi-lokasi strategis, antara lain di komplek kegiatan masyarakat seperti pasar, sekolah, pemukiman padat penduduk dan pusat pelayanan masyarakat. Diharapkan dengan sosialisasi ini keterlibatan masyarakat akan semakin nyata dan bisa merespon kebijakan ini untuk diterapkan sebagai perilaku hidup sehari-hari, khususnya terkait bagaimana mengelola lingkungan tempat tinggal mereka agar tetap bersih dan sehat bebas dari nyamuk.

GERTAK PSN memang sangat penting untuk segera dilaksanakan, karena fakta menunjukkan bahwa secara nasional, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) semakin bertambah. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, jumlah kasus DBD per 29 Januari 2019 mencapai 13.683 dengan jumlah meninggal dunia 133 jiwa. 
Ternyata jumlah tersebut terus bertambah ditandai dengan jumlah kasus DBD hingga 3 Februari 2019 yang mencapai 16.692 kasus dan 169 orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Kasus terbanyak ada di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, dan Kupang.

GERTAK PSN ini pada prinsipnya mengajak masyarakat dan semua lembaga baik pemerintah maupun swasta untuk peduli dengan kebersihan lingkungan dengan melaksanakan kegiatan 3M Plus yaitu : segala bentuk kegiatan pencegahan seperti 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

PSN perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan dan pancaroba, karena meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, sehingga seringkali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) terutama pada saat musim penghujan.
Selain PSN 3M Plus, sejak Juni 2015 Kemenkes sudah mengenalkan program 1 rumah 1 Jumantik (juru pemantau jentik) untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat Demam Berdarah Dengue. Gerakan ini merupakan salah satu upaya preventif mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) dari mulai pintu masuk negara sampai ke pintu rumah.

Terkait dengan program 1 rumah 1 jumantik ini di wilayah Kecamatan Sentolo tengah dirintis untuk menjadikan para siswa sekolah sebagai juru pemantau jentik nyamuk di rumah masing-masing. Para siswa akan melaporkan hasil pemantauan mereka kepada guru kelas masing-masing. Dari hasil pemantauan para siswa ini akan menjadi bahan evaluasi Tim Pokjanal DBD dalam mengambil langkah-langkah penanganan lanjutannya.

Thursday, 14 February 2019

Bendung Kamijoro yang milenial dan cetar membahana


SENTOLO.COM, Kulonprogo – Taman Bendung Kamijoro, sebuah destinasi wisata baru yang berlokasi di Kaliwiru, desa Tuksono, kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, saat sekarang ini setiap hari selalu dipadati pengunjung. Pada hari biasa, bisa mencapai 3000-an pengunjung, dan pada hari libur bisa mencapai 5000-an pengunjung. Fantastis bukan? Percaya atau tidak, itulah faktanya.
Sungguh luar biasa memang!!. Fenomena ini belum pernah belum pernah terjadi di sepanjang pengembangan pariwisata di Kabupaten Kulonprogo. Sangat diluar dugaan, begitu obyek ini dibuka untuk umum, destinasi wisata baru ini langsung cetar membahana, membuat ribuan orang jadi kepo sehingga terjadi ledakan jumlah kunjungan wisata mencapai 3000 - 5000 orang per hari.
Ini benar-benar terjadi, di Bendung Kamijoro, Tuksono, Sentolo, kabupaten Kulonprogo, DIY. Demikian menghipnotis-nya Bendung Kamijoro, hingga setiap unggahan foto-foto selfie pengunjung di lokasi wisata ini selalu viral.
“Ini sih gila banget, kayak cendol aneka warna, luar biasa berjubel pengunjungnya. Aku sampai susah cari angel buat bikin foto dan video,” kata Ajik, salah seorang pengunjung asal Bantul, Yogyakarta.
“Nggak ada loh kunjungan wisata baru, cuma sebuah bendungan lagi, demikian buanyak yang dateng, woouww,” ungkap beberapa pengunjung yang berkomentar di media sosial.
Kalau kita lihat di beberapa situs dan grup medsos memang banyak kita temukan foto-foto dan video yang menarik dan membuat banyak orang makin tergiur datang ke lokasi ini. Memang luar biasa banyak pengunjung setiap  harinya. Ribuan orang mengelilingi Bendung Kamijoro, dengan rasa takjub. Berfoto ria, selfie, ngevlog atau sekedar jalan-jalan mengelilingi are taman.
Bendung yang baru selesai dibangun dan merupakan salah satu  proyek rangkaian pembangunan Bandara Internasional Baru Yogyakarta di Temon, Kulon Progo yang menurut informasi akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo besok April 2019 mendatang, tiba-tiba menjadi instagramable.
Bukan itu saja. Setiap video kunjungan wisata Bandung Kamijoro, selalu viral di media sosial. Foto-foto kemeriahaan di seputar Bendung Kamijoro, menambah penasaran banyak orang.
Ngomong-omong, Bendung  Kamijoro ini mulai, dibangun pada tahun 2016 dengan anggaran total sebesar Rp 239 miliar. Sampai bulan Pebruari ini sebenarnya obyek ini masih dalam proses penyelesaian pembangunan. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa II, Juwaidi mengungkapkan, meski jumlah kunjungan ke bendung cukup membludak namun pihaknya tidak terlalu khawatir.
Dengan catatan, semua pengunjung ikut sama-sama menjaganya demi kebaikan bersama. “Demi kelestarian bangunan kami berharap agar wisatawan bisa ikut saling menjaga keamanan dan keutuhan, sehingga bendung bisa tetap berfungsi untuk irigasi secara maksimal,” ucap Juwaidi
Menurut Juwaidi, Bendung Kamijoro direncanakan mampu  mengairi areal persawahan periodik dan berkelanjutan. Luas areal persawahan yang dapat diari melalui bendung ini mencapai 2370 hektare. Bendung, ini terbangun berkat usaha warga yang tak jemu-jemu  mengusulkan pembangunannya.
“Di tahun-tahun sebelumnya telah memang telah dibangun Bendung Sapon yang hanya mengairi areal di Kabupaten Kulonprogo. Bendung Kamijoro adalah impian dari masyarakat dua kabupaten yakni  Bantul dan Kulonprogo,” terangnya.
Juwaidi menambahkan, bendung akan diserahterimakan secara resmi ke Pemda DIY setelah masa pemeliharaan berakhir. Ia berpesan agar Pemda menyiapkan tenaga khusus minimal dua orang untuk dilatih bagaimana menjalankan dan mengoperasikan pintu-pintu yang ada di bendung secara benar.
“Minimal dua orang untuk diajari cara mengoperasikan pintu-pintu secara benar dan baik, juga diajari bagaimana cara merawatnya,” tambah Juwaidi.

Thursday, 7 February 2019

Lebih jauh tentang Bendung Kamijoro yang bikin kepo banyak orang

Kamijoro Park 

SENTOLO.COM - Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul memiliki sebuah Pintu Air yang telah berada sejak abad 19. Pada awalnya pintu air ini dibangun oleh seorang seorang pengusaha pabrik gula keturunan Belanda Jerman (tidak diketahui nama) karena melihat pada saat itu daerah Pajangan, Srandakan, Kretek dan Sanden selalu mengalami kekurangan air.

Orang sekitar biasa menyebutnya "Ngantru Kamijoro" atau "Intake Kamijoro". Intake berasal dari bahasa Inggris yang berarti Pipa Masuk atau Pintu Air yang biasa digunakan untuk pengairan. Dengan berjalannya waktu warga sekitar menyebutnya dengan Dam Kamijoro.
Di lokasi ini terdapat sebuah prasati di bagian depan Intake Kamijoro yang bertuliskan tentang waktu pertama kali dibuat pada 28 Februari 1924 dan selesai pada 1939 tertanda Sri Sultan HB VIII dan Gubernur Belanda P.W Jonquiere. Dan Dam Kamijoropun dijadikan Warisan Budaya pada tahun 2008 oleh Sri Sultan HB X yang ditujukan kepada Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A) Kabupaten Bantul dan disekitarnya dibuatkan taman kecil dengan naman Taman Belanda.

Intake Kamijoro terletak di Dusun Plambongan Desa Triwidadi Pajangan Bantul membelah Sungai Progo sepanjang 69 km dari arah Timur ke Selatan. Sungai Progo yang terkenal memiliki arus deras dan memiliki hulu dari Kaki Gunung Sindoro Wonosobo dan bermuara di Laut Selatan wilayah Pandansimo Srandakan Bantul. Intake atau Dam ini memiliki fungsi utama sebagai pengairan untuk segala kebutuhan warga saat itu seperti untuk pertanian dan perkebunan dan terus terpakai hingga sekarang. Warga sangat terbantu dengan adanya Intake ini terlebih saat ini Pemerintah Pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang membangun Intake menjadi sebuah bendungan besar dengan nama Bendungan Kamijoro.

Dilansir melaui web Kementrian PUPR bahwa proyek Bendungan Kamijoro ini dikerjakan sejak tahun 2016 dan ditargetkan akan selesai pada 2019 dengan memakan biaya sekitar 200 milyar lebih. Dan nantinya diharapkan Bendungan Kamijoro dapat mengairi 2.370 hektar persawahan warga sekitar Bantul yang berdampak meningkatnya produksi pertanian rakyat.
Sungatno warga sekitar mengatakan,” Dengan adanya bendungan ini mudah-mudahan daerah Pajangan dan sekitarnya tidak akan kekeringan lagi seperti sekarang,sumur rumah dan sawah kering akibat kemarau ini,” ujarnya saat diwawancara dilokasi Intake Kamijoro,

Selain untuk mengairi persawahan di wilayah Kabupaten Bantul, dengan dibangunnya kembali bendungan Kamijoro ini juga akan memberikan pasokan air bersih ke Kulon Progo. Rencananya pasokan air ke Kulon Progo akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di New Yogyakarta International Airport dan kawasan peruntukan industri Sentolo.

Bangunan bendungan yang baru juga menarik minat banyak orang untuk ingin tahu lebih dekat ke lokasi yang juga telah dilengkapi dengan taman rekreasi dengan desain yang eksotis. Dari lokasi taman baru ini para pengunjung bisa memandang sungai Progo dan alam sekitarnya dengan lebih leluasa. Bisa selfie di beberapa spot yang menarik tentunya.

Keindahan arsitektur Taman Bendung Kamijoro di Kaliwiru desa Tuksono ini telah menjadi pembicaraan yang ramai di media sosial online dan bahkan video-video tentang Taman Bendung Kamijoro ini telah menjadi viral di dunia maya. Tidak heran jika beberapa minggu ini terjadi ledakan pengunjung ke obyek wisata baru ini.

Bagi anda yang ingin membuktikan keindahan pemandangan taman di pinggir sungai Progo ini bisa datang ke lokasi dari beberapa jalan, antara lain melalui Jln Yogya - Wates Km 18 pas traffic light perempatan Ngelo ke timur sampai Kaliwiru, atau melalui jalan Brosot - Lendah menuju Kaliwiru. Saat ini hanya dua jalur jalan inilah yang cukup representatif bagi anda yang menggunakan sarana transportasi kendaraan roda empat maupun roda dua.

Tuesday, 29 January 2019

Bedah rumah simbah Poniyem di pedukuhan Salam desa Salamrejo Sentolo

SENTOLO.COM - Bedah rumah merupakan program unggulan Kabupaten Kulon Progo yang sangat unik. Bedah rumah menjadi media untuk bergotong royong warga masyarakat Kulon Progo dalam membantu sesama warga yang dirasa perlu bantuan, khususnya dalam mewujudkan rumah tinggal yang layak dan sehat.
Bantuan bedah rumah juga digalang dari Badan Amil Zakat Nasional Kulon Progo, dana CSR perusahaan yang ada di wilayah, serta sumbangan langsung warga masyarakat baik dana maupun tenaga dan pikiran.
Bedah rumah dilaksanakan setiap hari Minggu dengan bergiliran dari satu Desa ke Desa lainnya yang perlu bantuan.
Salah satu rumah yang dibedah pada tanggal 29 Januari 2019 lalu adalah rumah simbah Poniyem yang berlokasi di pedukuhan Salam desa Salamrejo kecamatan Sentolo KULON PROGO. Rumah ini telah roboh diterjang angin pada awal musim penghujan tahun 2018 lalu.

Thursday, 24 January 2019

CERAMAH FULL GEERRR DOKTER H Agus Ali Fauzi PGD Pall Med (ECU) Terbaru

Dokter H Agus Ali Fauzi PGD Pall Med (ECU) memiliki gaya tersendiri dalam memberikan pengetahuan tentang kesehatan, tentang penyakit dan cara menghindari atau mengatasinya. Gayanya yang penuh humor menjadikan audiens lebih mudah menangkap informasi dokter yang super GEERR ini.
Jangan lupa LIke & Subscibe ya.....

Wednesday, 6 July 2016

Budidaya Penangkaran Ayam Bekisar Sentolo

Ayam bekisar adalah hasil perkawinan antara ayam hutan hijau jantan (Gallus varius) dan ayam kampung/ayam buras betina (Gallus gallus domesticus).
Ada tiga tipe ayam bekisar, yaitu :
Gallus aenus yang berjengger bergerigi 8 kecil, pial berukuran sedang, warna bulu pada lapisan atas ungu dengan plisir kuning emas.
Gallus temminckii memiliki jengger bergerigi enam, pial berwarna jambu, bulu merah mengkilap dan berplisir merah kecoklatan.
Gallus violaceus dengan jengger bergerigi bagus, ukuran pial sedang, warna bulunya ungu dengan permukaan yang halus.

Ayam bekisar memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan ukuran ayam kampung jantan, tetapi lebih besar daripada induk jantannya. Warna bulunya hitam kehijauan dan mengkilap. Memiliki suara yang halus dan khas: tersusun dari dua nada.

Ayam bekisar, karena ia hasil persilangan antara dua jenis yang berbeda, biasanya mandul. Namun, tidak semuanya demikian. Ada pula ayam bekisar (jantan atau betina) yang bila dikawinkan dengan ayam kampung menghasilkan keturunan.

Ciri-ciri khusus dari ayam bekisar yang paling menonjol adalah bentuk bulu leher yang ujungnya bulat/lonjong bukan lancip. Jika dibandingkan dengan ayam jago biasa maka akan terlihat jelas. Bentuk ayam yang mirip sekali dengan bekisar adalah hasil silangan ayam bekisar dengan ayam kampung yang dinamakan bekikuk. Bentuk dan posturnya sama, hanya kadang-kadang pial dan bulu lehernya yang berbeda.

Tahukah anda ternyata di Sentolo Kulon Progo DIY ada seorang penangkar bekisar yang cukup handal, ibarat seorang maestro seni. Orang mengatakan bahwa menangkar bekisar itu ibarat membuat karya seni.: 
“Memproduksinya ibarat membuat karya seni,  sementara pembelinya terus mengantri”

Jaringan pembibit, pedagang dan komunitas penggemar ayam bekisar tersebar di seantero negeri. Seandainya bibit ayam bekisar diproduksi dalam jumlah banyak pun dipastikan akan tetap laku.
Walaupun demikian, persis seperti barang seni, tak mudah untuk membuat karya dalam hal ini bibit ayam bekisar yang masuk kategorimasterpiece (karya besar). Lebih dari itu, meski pembibit membatasi jumlah produksi, biaya produksi tetap rendah. “Khas seperti barang seni. Antara harga jual dengan ongkos pembuatan sangat jauh dan sangat untung. Tapi sayangnya tidak semua orang bisa membuatnya,” ungkap Agustinus Ariyanto, pembibit ayam bekisar asal Sentolo, Kulon Progo, Jogjakarta ini.
Menurut peternak yang akrab disapa Agus ini, di komunitas bekisar antara peternak dan penghobi garis pembatasnya cukup jelas. Peternak seperti dia kebanyakan hanya berkonsentrasi memproduksi bibit saja, untuk dijual. “Meski nanti bibit dipelihara oleh penghobi, kemudian memenangkan kontes sehingga harganya melambung hingga setara harga mobil mewah, kami ikut senang karena pemenang itu bibitnya dari kita,” paparnya bersemangat.
Sebaliknya, penghobi jarang yang bisa beternak (pembibitan bekisar). Sebab ayam bekisar adalah final stock persilangan yang mandul, tidak bisa dikembangbiakkan lagi.

Produksi
Setiap 5 hari, Agus mengaku mampu mengeluarkan 80 – 100 ekorkuthuk (DOC) bekisar. Perbandingan jantan dan betinayang dijual sebesar 50 : 50. Pejantan dijual Rp 60 ribuper ekor sedangkan betina Rp 6 ribu per ekor.

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Jogjakarta ini mengungkapkan harga kuthuk tak pernah turun. Padahal, menurut dia hanya bekisar pejantan yang ‘berfungsi’ atau dikonteskan. Karena kontes ayam bekisar meliputi warna bulu, warna kaki, postur, kebersihan, dan suara kokok. Selain itu, ayam bekisar betina tidak produktif (kalaupun bertelur, fertilitas telur sangat rendah) dan berdaging tipis.
Maka Agus berpesan kepada penghobi bekisar pemula untuk membeli bibit ayam bekisar di tempat yang jelas. Bisa ke pembibit langsung atau kepada sesama penghobi agar tidak tergiur harga miring tetapi ternyata yang didapatkan adalah kuthuk betina.

Untuk memproduksi kuthuk bekisar, Agus menyediakan pejantan ayam hutan sebanyak 30 ekor dan 200 ekor ayam kampung betina. “Pejantan harus ayam hutan hijau, asal dari Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kalau induk betina paling bagus memakai ayam kampung dengan warna bulu wido,” paparnya. Ciri wido adalah bulu berwarna seperti klobot (sarung tongkol jagung) dengan variasi kuning. Ayam hutan dari Sumatera dan Kalimantan tidak dapat dipakai karena berjenis ayam hutan merah.
Pejantan ayam hutan yang dipakai Agus adalah hasil tetasan, bukan ayam hutan tangkapan. “Ayam hutan tetasan mentalnya bagus, karena tidak sempat hidup ‘liar’ dan tidak mengalami perubahan habitat,” ungkapnya.

Agus menyatakan harga calon pejantan ayam hutan hasil tetasan yang layak untuk pemacek mencapai Rp 750 ribu – Rp 1 juta per ekor. Bahkan pejantan yang sudah terbukti mampu mengawini dan subur bisa mencapai Rp 3 juta per ekor.
Agus memilih menggunakan kawin alami sistem dodokan ketimbang sistem IB (inseminasi buatan).  Kuthuk bekisar hasil kawin IB biasanya kalah kuat dibanding anak dari kawin alam sehingga harus dirawat lebih teliti terutama pada sebulan pertama kehidupannya.
Sistem dodokan adalah pejantan dibawa ke kandang baterai betina, betina didudukan kemudian keduanya dipasangkan sehingga terjadi perkawinan secara akurat.

Kendala
Hingga saat ini, kendala bisnis pembibitan bekisar tidak berada di pemasaran, tetapi murni di teknis budidaya. Kendala yang umumnya di alami pembibit bekisar adalah kemandulan dengan gejala telur tidak fertil sejak 5 tahun lalu. Saat parah-parahnya kasus ini, telur tetas yang fertil pada candling pertama hanya sekitar 2 – 5 %. “Semua peternak pembibit mengalami. Namun dengan berbagai percobaan yang menghabiskan uang puluhan juta, berangsur-angsur bisa teratasi,” ungkapnya.

Sayangnya Agus menolak merinci cara mengatasi kemandulan itu. Ia hanya menyampaikan, dilakukan perbaikan budidaya, mencukupi nutrisi, mencegah penyakit dan menambah sistem kekebalan dan kesehatan ayam. Ia bahkan menghindari air sumur karena banyak mengandung E coli. “Saya pakai air dari perusahaan air minum,” tegasnya.


Monday, 4 July 2016

Yogyakarta : The Cultural Soul of Java

kyAs a place that is highly independent and protective of its customs and traditions, Yogyakarta can be considered as the cultural soul of Java, and indeed the place is known as Java's cultural capital, a center of historical, political, and cultural development. Many of Java's cultural landmarks can be found at Yogyakarta. On equal footing with its cultural attributes, however, are its plethora of natural attractions that also made it one of Java's most admired travel destinations.
To fully experience the magnificence of Yogyakarta as a travel destination, some of its hottest attractions and activities are given below:

Kraton
The official palace of the Sultan of Yogyakarta, known as the Kraton, is a fascinating cultural and political landmark that is much more of a walled city within a city. It is home to about 25,000 residents, 1,000 of whom are under the employment of the sultan. The Kraton is a self contained community, with its own vital establishments such as markets, schools, mosque, cottage industries, and even a museum. The Kraton is one of the structures that exemplify the finest of Javanese architecture and culture. Its museum holds an extensive collection of historical and cultural memorabilias. Guided tours and performances are regularly held for the benefit of tourists and visitors.

Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo is Yogyakarta's main market, located just 800 meters north of Kraton. Mostly inexpensive batik cap are sold in its front section. On the second floor, cheap shoes and shoes can be found. Pasar Beringharjo's section towards the south is still very much a traditional market.

Kota Gede
Kota Gede is famous as Yogyakarta's center for the silver industry since 1930. Prior to that, however, the town was once the first capital of the Mataram Kingdom, which was founded in 1852 by Senopati. Located near the southern end of the central market lies Senopati's grave, whom the locals consider as sacred.

Tembi
Located at the southern portion of the city, Tembi is a beautiful Javanese cultural center seated in a unique position, surrounded by rice paddies. Its wooden houses, old but beautiful, is home to cultural artifacts including batik and basketry, a fine collection of kris, wayang puppets, and historic photographs of Yogyakarta. A restaurant and an accommodation is available, too!

Sono-Budoyo Museum
Structurally speaking, this museum is poorly lit and a little unkempt and dusty, but it boasts of a fine, first- class collection of Javanese art including batik, kris, puppets, topeng, and wayang kulit. Its courtyard is a location for a Hindu statuary and artefacts collected including Balinese carvings. Apart from these function of being home to such collections, this museum is also a venue for wayang kulit performances.

Handycraft Villages
The Sentolo District of Kulonprogo Regency, has a handycraft villages like Sentolo, Salamrejo, Tuksono and Sukoreno, etc. each has an individual style of handycrafts and due to this individuality and uniqueness, the handycrafts coming from these regions are not only different but above par excellence as well.


Monday, 21 March 2016

Sentolo's Handycrafts - A Perfect Semblance of Traditional Ethnic Designs, Sheer Skill and Hard Work

wgCreativity, skill and innovation are the key factors on which any handycraft depends. A handycraft is essentially a piece of artistic excellence brought in use for decorative household items, clothes, furniture, jewelry or anything for that matter. Using special tools, art is crafted on to a piece of fabric, wood, etc. Since time immemorial, handycraft has been enamored as a respectable and tough work that is performed by only those people who have crafting in their blood, i.e if it is their hereditary work. That is the most prominent reason why it is also regarded as a traditional method of making goods for various purposes.

Handycrafts are often used as gift articles as well due to their traditional and beautiful appearances. Today the handycraft industry is flourishing owing to the inclination of a majority of people towards ethnic and traditional designs in handycrafts. Embroidered clothes, sculptured statues, designed lamps, wooden handycrafts, etc. have attracted many a tourist as well as domestic people towards this beautiful facet of art and craft which has reigned Yogyakarta for centuries now. Yogyakarta is well known for its diverse culture and each regency of Yogyakarta Special Province is renowned for its individual handycrafts. Be it the Sentolo District of Kulonprogo Regency, like Sentolo, Salamrejo, Tuksono and Sukoreno, etc. each has an individual style of handycrafts and due to this individuality and uniqueness, the handycrafts coming from these regions are not only different but above par excellence as well.

ta
Yogyakarta handycrafts are said to have been derived from one the oldest civilizations of the world. The vast cultural and ethnic diversity of this colorful land has enabled a variety of motifs, techniques and crafts to flourish and be crafted through innovations. Handicrafts have gained immense popularity as a great gift item as well. Such handycraft items are not only praised but also last for a lifetime.Simple materials like agel, bamboo, cane and various other and  woods, have been transformed into unique pieces of handycrafts by the gifted artisans. The beauty, elegance and exquisite designs of these handicrafts have crafted a niche for themselves in the heart of the art lovers in Yogyakarta and worldwide. The vast range of handycrafts showcasing the rare artistry skills and innovations comprises of handycraft jewelry, handicraft home furnishing items, handicraft decorative items, handycraft table accessories, handycraft antique armory, handycraft paintings, handycraft garden accessories, toys, etc.

Today the handycraft industry is flourishing in every aspect, be it handicraft clothes, antique jewelry, handycraft fashion accessories, and so on. Ethnic designs and innovative styles have given traditional handycrafts a new dimension. Artisans, expert in handicrafts from each state showcase their skills in the handycraft products. Various trade shows, trade fairs give us a chance to plunge in the handycraft world and choose our desired handycraft items.

However, as trade fairs do not happen every day and in case we miss on to those, we should not be disheartened at any cost because the flourishing handicraft industry is easily reachable through the Internet as well. Easy accessibility and faster services make Internet options the most sought after. And, further the task of searching authenticated handycraft manufacturers and suppliers is made easy by the b2b portals and various others. The idea is to get wonderful and exquisite handycraft product options at appropriate prices. And such b2b portals definitely help us in identifying the correct options and thus enhance trusted business.

Handycrafts are valuable and so is the innovation behind them; let's preserve this authentic art and help it.

Saturday, 19 March 2016

Kesenian Oglek "Turonggo Seto" dari Gedangan, Sentolo, Kulon Progo

otsKesenian oglek banyak dijumpai di Desa Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Hampir di setiap pedukuhan di desa ini mempunyai paguyuban yang bergerak di bidang kesenian oglek. Salah satunya adalah Paguyuban Turonggp Seto yang berada di Pedukuhan Gedangan. 

Kesenian oglek adalah salah satu kesenian yang termasuk dalam genre kesenian kuda kepang. Kesenian kuda kepang identik dengan sebuah tarian yang menggunakan properti kuda kepang. Sebuah tarian yang menceriterakan tentang prajurit berkuda dan pada ouncak pertunjukannya diakhiri dengan adegan kesurupan. Meskipun termasuk kedalam genre kuda kepang, kesenian oglek memiliki ciri khas tersendiri.

Ciri khas dari kesenian oglek dapat dilihat dan diperoleh dari unsur-unsur di dalam bentuk penyajiannya, seperti kostum yang dikenakan, iringan musik, bentuk properti dan gerakan serta urutan penyajiannya. Berawal dari bentuk penyajian kesenian oglek Paguyuban Turonggo Seto inilah dapat dilihat perbedaan-perbedaan antara kesenian oglek dengan kesenian ber-genre kuda lumping yang lainnya. 

Unsur-unsur yang ada dalam pertuinjukan kesenian oglek Turonggo Seto juga dapat digunakan sebagai pembeda antara kesenian oglek Turonggo Seto dengan kesenian oglek lain yang masih berada dalam satu desa, karena unsur-unsur yang ada di dalam bentuk penyajian oglek Turonggo Seto memiliki ciri khas tersendiri. Ciri-ciri khas itu hanya terdapat pada bentuk penyajian kesenian oglek Turonggo Seto, sehingga orang dapat mengenali dengan mudah kesenian oglek dari Paguyuban Turonggo Seto pedukuhan Gedangan Desa Sentolo ini.