2019

Monday, 5 August 2019

Oglek Tuksono ikon kesenian tradisional yang patut dilestarikan


SENTOLO.COM - Pada hari Minggu 04/08/2019 lalu desa Tuksono menyelenggarakan Festival Oglek dalam rangka upaya pelestarian jenis kesenian yang menjadi ikon desa Tuksono. Kegiatan ini diprakarsai oleh Pengurus Desa Budaya Tuksono bersama Kepala Desa beserta jajarannya. Festival Oglek tahun ini merupakan festival yang pertama kalinya diselenggarakan. Kegiatan ini mengambil lokasi di komplek Sendang Kamulyan Taruban. Disamping itu, even festival ini juga diselenggarakan dalam rangka memberikan ruang aktualisasi Sanggar Kesenian yang ada di Tuksono. Pada kesempatan itu ditampilkan pula kebolehan anak-anak penggiat seni budaya Tuksono yang tergabung di Sanggar Seni Amarta, pedukuhan Karang desa Tuksono.

Dalam Festival Oglek perdana ini memang masih minim pesertanya, yakni baru 5 kelompok Oglek. Kelima kelompok ini memang dari pedukuhan yang saat ini benar-benar masih masih memiliki Grup Oglek. Akan tetapi, sebagaimana disampaikan oleh Kepala Desa Tuksono :”Kedepan diharapkan di masing-masing pedukuhan tumbuh grup-grup Oglek baru sehingga pada festival tahun mendatang jumlah peserta semakin banyak atau meningkat”.

Kesenian  Oglek   diciptakan  oleh Mbah Rubikin Noto  (Sruntul) Sunaryo  atau  yang biasa  disebut  Rubikin (Sruntul) pada  tahun  1957. Kesenian  Oglek  merupakan  kesenian khas Tuksono  yang  sangat  populer  pada masyarakat. Kesenian ini mudah dikenali karena  sangat unik dan menarik. Kata Oglek itu sendiri berasal dari kata   “Oglek-oglek”   yang  artinya  tarian  itu  mempunyai  gerakan  lurus  dari  kepala  
sampai ke pinggang.

Oglek memiliki kemiripan dengan kesenian Jathilan, gerakan  dinamis dengan gaya patah    patah  dibawakan  dengan  empat  penari  inti.  Tarian  ini  menggambarkan peperangan  antara  Sutiwijoyo  dan  Arya  penangsan.  Penari memakai  kostum  baju kuning  dan  menaiki  kuda  kepang,  ketika  mengalami  trance  roh yang  dipanggil  oleh pawang, gerakannya  jadi dinamis  dan  lentur.  Tubuhnya  ketika  dicambuk  oleh pawang tidak  merasakan sakit. Uniknya, pementasan Oglek ini harus ada ritual sesaji tersendiri yang dilakukan di tempat pementasan.

Kesenian  Oglek  menceritakan  cerita  yang  sama  pada  setiap  pentasnya,  peperangan  Sutowijoyo  dan  Aryo  Penangsang  menjadi  cerita  menarik  dan ceriteranya  tidak  berubah. Aslinya, kesenian  Oglek  ini terdiri dari 5 bagian adegan, sehingga jika  ditanggap atau dipentaskan memerlukan  waktu kurang lebih 3 jam. Kesenian Oglek  merupakan  contoh kesenian  yang  digemari  mas yarakat Desa  Tuksono,  hal  ini  terlihat  dari   banyaknya   permintaan  mas yarakat   untuk dipentaskan  kembali.  Kelompok  kesenian  ini  tampil  dalam  festival,  acara -acara hajatan  serta  mendapat  undangan  untuk  tampil  di  luar  kota.  
Dalam perjalanan waktu kesenian  Oglek  mengalami  kemunduran  disebabkan  oleh  minimnya  minat sukarelawan  terhadap  kesenian  Oglek.  Saat  ini di Tuksono grup  kesenian  Oglek tinggal tersisa 6  grup dari  12  pedukuhan,  berbeda  dengan zaman dulu di  mana kesenian Oglek ada pada setiap pedukuhan. Mundurnya kesenian Oglek  sebagai salah satu bukti bahwa unsur kebudayaan lokal mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya.

Semoga apa yang kini dilakukan desa budaya Tuksono melalui festival Oglek akan membangkitkan kembali minat masyarakat pada kesenian tradisional serta adat tradisi lainnya yang saat ini masih berjalan di tengah proses modernisasi.

Saturday, 3 August 2019

Pedhut Karang Kemuning Juara Festival Kethoprak 2019

SENTOLO.COM - Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak) adalah sejenis seni pentas drama tradisional yang diyakini berasal dari Surakarta dan berkembang pesat di Yogyakarta, oleh karena itu kesenian ini sering disebut sebagai Ketoprak Mataram. Pada mulanya, ketoprak menggunakan iringan lesung (tempat menumbuk padi) yang dipukul secara berirama sebagai pembuka, iringan saat pergantian adegan, dan penutup pertunjukan sehingga terkenal disebut sebagai Ketoprak Lesung. Dalam perkembangannya, Ketoprak kemudian menggunakan iringan gamelan jawa, dan penggarapan cerita maupun iringan yang lebih rumit. Bahkan sekarang kethoprak juga telah dikemas dalam format tampilan festival dan lomba yang durasi waktu lebih pendek tetapi tetap harus mempertahankan alur ceritera dan setting tempat maupun waktu.

Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa, meski juga ada cerita fiksi. Banyak pula diambil cerita dari atau berseting luar negeri (yang terkenal adalah cerita Sampek Engtay). Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata.

Dalam rangka melestarikan dan mengenalkan kembali kesenian kethoprak, Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, telah menyelenggarakan kegiatan Gelar Budaya Jogja berupa Festival Kethoprak se Kabupaten Kulon Progo tahun 2019 yang dibiayai melalui Dana Keistimewaan dengan mengambil tempat  di Taman Budaya Kulon Progo. Festival kethoprak ini diselenggarakan selama 4 hari mulai 17-20 Juli 2019 dan diikuti oleh 12 kontingen kethoprak yang berasal dari 12 kecamatan.

Festival Kethoprak merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo. Juri dalam festival ini berasal dari kalangan seniman, dosen perguruan tinggi seni, serta aktor seni panggung dan tokoh budayawan. Ada lima orang juri yaitu : Marsidah (Seniman Yogyakarta), Imam Safii (DKKP), Pardiman Joyonegoro (Seniman Yogyakarta), Erlina Panca, M.Sn (ISI Yogyakarta) serta Drs. Susilo Nugroho (Seniman Yogyakarta). Dalam festival kethoprak 2019 sebagai peraih  Juara I adalah kontingen dari Kecamatan Pengasih dengan nilai 2.250, Juara II dari Kecamatan Sentolo dengan nilai 2.125, Juara III dari Kecamatan Girimulyo dengan nilai 1.975, Juara IV dari Kecamatan Panjatan dengan nilai 1.800, dan Juara V dari Kecamatan Samigaluh dengan nilai 1.750.

Selain lima kejuaraan, terdapat beberapa penghargaan perorangan diantaranya Sutradara Terbaik diraih Kecamatan Pengasih, Penata Iringan Terbaik diraih Kecamatan Panjatan, Penata Artistik Terbaik diraih Kecamatan Nanggulan, Pemeran Utama Putra Terbaik diraih Kecamatan Sentolo, Pemeran Utama Putri Terbaik diraih Kecamatan Girimulyo, Pemeran Pembantu Putra Terbaik diraih Kecamatan Pengasih, Pemeran Pembantu Putri Terbaik diraih Kecamatan Pengasih, dan Penata Rias & Busana Terbaik diraih Kecamatan Pengasih.

Dalam festival kerhoprak tahun ini kontingen kecamatan Sentolo menampilkan lakon “Pedhut Karang Kemuning” dan berhasil tampil sangat memuaskan sehingga mendapatkan aplaus dari para penonton dan juri. Pedhut Karang Kemuning adalah judul ceritera yang disuguhkan Tim Kethoprak Kecamatan Sentolo pada Festival Kethoprak Kulon Progo pada tanggal 19 Juli 2019 lalu. Predikat Juara diraih kontingen ini dan salah satu pemainnya mendapat penghargaan sebagai Pemeran Utama Terbaik Putra.

Pedhut Karang Kemuning mengisahkan tentang intrik yang terjadi di sebuah kademangan yakni kademangan Karang Kemuning. Ceritera ini mengambil latar waktu masa perang Pangeran Diponegoro tahun 1825 - 1830. Alkisah pada suatu malam Demang Karang Kemuning terbunuh secara misterius oleh seseorang tak dikenal. dan peristiwa itu kemudian menimbulkan intrik di lingkungan kademangan.




Download Pedhut Karang Kemuning seri 1

Download Pedhut Karang Kemuning seri 2

Download Pedhut Karang Kemuning seri 3 Tamat.

Friday, 5 July 2019

Uniknya Ogoh ogoh obong desa Tuksono Sentolo

oghOgoh-ogoh bisa kita jumpai di beberapa daerah yang masih kental dengan budaya dan adat istiadat tradisional, seperti di Bali, Yogyakarta dan Jawa Timur.Ogoh ogoh adalah raksasa yang berwajah garang dan menjadi simbol keangkara murkaan. 

Di desa Tuksono, Sentolo, Kulon Progo Yogyakarta, ogoh-ogoh menjadi salah satu simbol yang diwujudkan dalam sebuah boneka raksasa dan diarak dalam kaenaval budaya bersih desa luwaran di pedukuhan Taruban Wetan dan Kulon. Boneka raksasa ini diarak keliling pedukuhan dan menjadi tontonan masyarakat banyak. Di akhir rute karnaval yakni di komplek sumur keramat Sendang Kamulyan dan Pelataran makam Ki Joko Tarub, boneka Ogoh-ogoh ini dibakar sebagai simbol musnahnya keangkara murkaan dan aura negatif di desa Tuksono. 

Sesuai makna bersih desa luwaran. Setelah pembakaran Ogoh-ogoh dilanjutkan doa bersama di makam Ki Joko Tarub dipimpin Tokoh Ulama setempat dan Juru Kunci makam. Selanjutnya para warga kedua pedukuhan yakn pedukuhan Taruban Wetan dan Taruban Kulon berkumpul di balai pedukuhan masing-masing untuk kenduri doa permohonan maupun kenduri syukur atas nikmat yang telah diterima dari Tuhan Yang Maha Pemuran. Dalam kenduri ini warga pedukuhan menyiapkan nasi beserta ayam ingkung serta kelengkapan lainnya seperti pisang raja dan lauk tradisi setempat. 

Lebih jauh tentang upacara adat bersih desa luwaran desa Tuksono silahkan kunjungi di sini.
Kirab budaya bersih desa luwaran Tuksono 23 Juni 2019 bisa anda saksikan disini.

makna pawai ogoh-ogoh, parade ogoh ogoh mataram 2018, pawai ogoh ogoh nyepi, pengertian pawai ogoh ogoh, rute pawai ogoh ogoh 2019, rute pawai ogoh ogoh 2018, pawai ogoh ogoh semarang 2019, pawai ogoh ogoh surabaya 2019, pawai ogoh ogoh surabaya, pawai ogoh ogoh 2019 di surabaya, pawai ogoh ogoh 2018 di surabaya, sejarah pawai ogoh-ogoh, parade ogoh ogoh desa sumerta, pawai ogoh ogoh tainsiat 2019, pawai ogoh ogoh tegallalang, parade ogoh ogoh tainsiat 2019, tujuan pawai ogoh ogoh, tradisi pawai ogoh ogoh, parade ogoh ogoh tabanan 2019, parade ogoh ogoh tabanan,

     

Wednesday, 29 May 2019

Sentolo berbagi bersama anak-anak yatim piatu dan dhuafa



SENTOLO.COM - "Aku dan pemelihara anak yatim, akan berada di surga kelak," sabda Nabi Muhammad SAW, sambil mengisyaratkan dan mensejajarkan kedua jari tengah dan telunjuknya sebagaimana diceriterakan dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari. Dari hadis tersebut, kita menjadi tahu bahwa Nabi Muhammad SAW, memiliki perhatian yang sangat besar kepada yatim piatu.
Selaras dengan apa yang telah disabdakan oleh Nabi SAW, dan kepeduliannya terhadap tingkat kemiskinan yang relatif tinggi di wilayah Kecamatan Sentolo, maka Tim Penggerak PKK Kecamatan Sentolo bersama OPD Kecamatan Sentolo serta  BAZNAS Kabupaten Kulon Progo menggelar acara bertajuk “Pemberian Santunan kepada Anak-anak Yatim Piatu dan Dhuafa dari dana BAZNAS Kulon Progo dan Masyarakat Umum,” bertempat di Pendapa Kecamatan Sentolo, pada hari Rabu 29 Mei 2019. Acara santunan ini  merupakan salah satu program TP-PKK Kecamatan Sentolo, di mana semua dananya berasal BAZNAS Kulon Progo ditambah dana dari zakat, infaq dan sedekah karyawan/wati, ASN, pengusaha, serta masyarakat umum lainnya.
Program yangi telah berjalan beberapa tahun ini, ternyata mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari berbagai kalangan, terbukti dari hasil penggalangan dana yang masuk ke Panitia mencapai Rp.54.150.000,-. Dana ini berasal  dari dana BAZNAS Rp.20.000.000,- dan dana dari masyarakat umum sebesar Rp.34.150.000,-. Jumlah ini masih terus bertambah karena sampai hari ini (29/05/2019) masih ada dermawan yang menyalurkan dananya ke Panitia. Tentunya dana tambahan ini juga akan disalurkan kepada yang berhak pada kesempatan berikutnya sambil menunggu daftar tambahan calon penerima dari Desa dan Sekolah.
“Sampai dengan pagi ini (29/05/2019), donasi yang diberikan sebesar  Rp.54.150.000,- untuk diberikan kepada  sejumlah 361 anak yatim piatu dan dhuafa. Adapun rinciannya Rp.40.200.000,- untuk 268 anak yatim piatu dan dhuafa diluar Pondok Pesantren / Panti Asuhan. Sedangkan sisanya sejumlah Rp.13.950.000,-  dibagikan kepada 93 anak yatim piatu dan dhuafa melalui 7 (tujuh) Pondok Pesantren dan 1 (satu) Panti Asuhan Yatim Piatu yang ada di wilayah Kecamatan Sentolo. Dari santunan itu, masing-masing anak mendapatkan Rp-150.000,-”, terang Ketua Panitia, Hening Nurcahyo.
Acara pemberian santunan ini dihadiri oleh Bupati Kulon Progo yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Bidang Politik Hukum dan Pemerintahan, H Arif Sudarmanto, SH., Pengurus BAZNAS Kulon Progo, pimpinan pondok pesantren / panti asuhan, Kepala Sekolah  dan para donatur serta anak-anak yatim piatu dan dhuafa beserta wali / orang tuanya. Dalam sambutannya, Bupati berpesan : “.... kepada anak-anak yang mendapat santunan pada saat ini agar dapat menerimanya dengan baik, disyukuri dan dapat mempergunakan dengan sebaik-baiknya, jangan digunakan untuk konsumtif, namun gunakanlah untuk mendukung masa depan”. Selanjutnya Bupati juga berharap momentum ini dapat digunakan sebagai media untuk memberikan kesadaran bagi kita sekalian agar dapat berempati terhadap saudara-saudara kita yang kurang beruntung sehingga tergerak untuk membantu mereka.
Acara ini kemudian diakhiri dengan tausyi’ah dan doa oleh Ustadz H Suyanto, Sag Msi, pimpinan pondok pesantren modern “Madaniyah”, Gedongkuning Yogyakarta yang kebetulan juga asli dari Karangsari Pengasih Kulon Progo. Dalam tausyi’ahnya, Ustadz Suyanto yang akrab dipanggil dengan sebutan Ustadz Kirun, menyampaikan materi tentang pentingnya kita untuk bersedekah agar selamat di dunia dan akhirat. Tidak ada sedekah yang menjadikan orang menjadi miskin, tetapi sebaliknya justru semakin besar berkah yang diberikan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang rajin bersedekah.
(Wied)

Tuesday, 14 May 2019

Ayo belajar dari Panglipuran


Panglipuran villageSENTOLO.COM - Pernahkah anda berkunjung ke pulau Bali? Bagi yang sudah pernah ke Bali tentu  setuju jika Bali merupakan tempat favorit untuk berlibur. Tak hanya wisatawan lokal, Pulau Seribu Pura ini juga sangat disukai oleh wisatawan asing. Pantainya yang indah, budaya yang kental, masyarakatnya yang ramah hingga kuliner yang lezat pun menjadi alasan mengapa para wisatawan ingin kembali berkunjung ke Bali.
Pulau Bali selain terkenal karena keindahan alamnya juga bersihnya obyek-obyek wisatanya, salah satu desa di Bali bahkan pernah disorot karena berhasil meraih predikat sebagai desa terbersih di dunia bersama desa di Belanda dan India pada 2016 silam. Disamping juga pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden RI terkait dengan upaya pelestarian lingkungan.  Desa ini bernama Penglipuran, sebuah Desa Adat yang berada di wilayah Kabupaten Bangli.
Desa Adat Panglipuran dipimpin oleh seorang Ketua Adat yang dipilih secara langsung oleh warga masyarakat desa ini. Masyarakat mengangkatnya dan memberikan amanahnya untuk menjaga keaslian dan kelestarian adat yang telah lama ada dan menjadi pegangan mereka dalam hidup bermasyarakat. Uniknya, Ketua Adat dan segenap pengurusnya tidak ada hubungannya dengan birokrasi pemerintahan baik Pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten maupun Propinsi Bali. Jadi desa adat ini betul-betul otonom dan mandiri dalam hal menjalankan adat istiadat mereka.
Desa yang terletak di Bangli ini resmi menjadi desa wisata sejak 1993 silam. Dengan total luas 112 hektar yang terdiri dari 12 hektar area rumah penduduk, 49 hektar ladang dan 37 hektar hutan bambu, desa wisata ini dijamin dapat menarik perhatian siapapun yang berkunjung.
Penglipuran memang masih sangat menjaga kehidupan adat dan tradisinya. Hal ini terlihat dari rumah-rumah warganya yang masih bergaya tradisional yang berderet rapi dari ujung ke ujung di jalanan yang menanjak. Jalanan itu sendiri terbuat dari batuan alam dan ditumbuhi bunga-bunga warna-warni. Tertata rapi dan indah dalam harmoni alam yang sangat menawan.
Desa yang di huni sekitar 243 KK atau 986 jiwa ini menempatkan bangunan suci di hulu, perumahan di tengah, dan tempat usaha di hilir. Di komplek pemukiman Panglipuran Motor dan mobil dilarang masuk ke sini, tentunya desa ini bebas dari polusi. Kendaraan yang dimiliki warga desa akan di taruh di garasi belakang rumah yang memiliki jalur berbeda.
Berkat kesadaran masyarakat yang sangat menjaga lingkungan tak ada sampah yang terlihat. Selain memang dilarang untuk membuang sampah sembarangan, desa ini juga menyediakan bak sampah di setiap sudutnya. Bahkan untuk masalah rokok pun masyarakatnya sangat perhatian. Mereka yang ingin merokok tak boleh sembarang. Perokok harus pergi ke tempat khusus yang disediakan untuk merokok.
Setiap bulannya, ibu-ibu setempat mengolah sampah dengan memisahkan antara sampah organik dan non organik. Kemudian mereka olah menjadi pupuk pada sampah organik. Sedangkan sampah non organik akan di tabung ke bank sampah yang dihargai Rp.200,- per kilogram.
Tidak hanya itu, masalah perkawinan juga ada aturan-aturannya sendiri.. Desa ini melarang warganya untuk melakukan poligami. Selain itu juga ada pantangan untuk menikahi tetangga yang berada di kanan, kiri dan depan rumah. Apabila ada yang melanggar aturan larangan poligami ini akan mendapatkan sanksi hukum adat berupa diasingkan atau tidak boleh bermukim di kompleks pemukiman yang biasa tetapi harus tinggal di lokasi pengasingan yang sudah disiapkan lahannya di desa Panglipuran.
Desa Panglipuran adalah contoh desa mandiri yang tumbuh dari masyarakatnya sendiri. Dengan menjaga kehidupan dan alam lingkungan dengan baik ternyata membuat desa ini menjadi sejahtera. Tidak tanggung-tanggung, dengan banyaknya kunjungan wisata kesana mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bangli tidak kurang dari Rp.4 Milyar per tahun.
Jika tertarik untuk berkunjung, kamu perlu membayar Rp 15 ribu untuk biaya masuk ke Desa Penglipuran. Dengan ramah warganya akan menyambut dan menemani anda berkeliling melihat sudut-sudut pemukiman asli dan hutan bambu yang eksotik.
Tertarik berkunjung ke sini? Atau Desa anda ingin maju seperti Panglipuran? Bagi anda atau warga masyarakat yang ingin berkunjung studi wisata ke Panglipuran dengan nyaman dan biaya yang relatif murah, silahkan gunakan biro perjalanan wisata milik BUMDesa Srikayangan, Kecamatan Sentolo Kulonprogo. 
Kontak person : 085292908899.

wisata desa penglipuran, wisata ke desa penglipuran bali, tempat wisata dekat desa penglipuran, tempat wisata desa adat penglipuran, paket wisata desa penglipuran, wisata searah desa penglipuran, tiket wisata desa penglipuran, desa wisata penglipuran berbasis masyarakat, desa wisata penglipuran wikipedia, sejarah desa wisata penglipuran, wisata desa adat penglipuran, wisata desa penglipuran bali, wisata dekat desa penglipuran bali, wisata desa penglipuran di bali, objek wisata desa penglipuran bangli, lokasi desa wisata penglipuran bangli, tiket masuk desa wisata penglipuran bali, sejarah desa wisata penglipuran bali, lokasi desa wisata penglipuran bali, di desa wisata penglipuran,

Wednesday, 8 May 2019

Resensi buku baru The Leader Who Had No Title


SENTOLO.COM - Anda tentu sudah mengenal siapa Robin Sharma. Dia adalah seorang konsultan kepemimpinan di berbagai perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500, yaitu Microsoft, GE, Nike, FedEx, dan IBM. Buku The Leader Who Had No Title ini adalah inti sari dari 15 tahun pengalamannya sebagai konsultan ternama. Selain itu, Robin juga sukses mengelola organisasi berskala internasional seperti Yale University, American Red Cross, dan Young Presidents Organization.
Dalam buku ini, Robin Sharma berusaha mendobrak teori kepemimpinan yang selama ini lazim diterapkan. Selama ini hampir semua orang berpikir bahwa untuk menjadi pemimpin itu butuh jabatan khusus. Baik dalam bidang bisnis, pendidikan, militer, dan yang lainnya. Namun, Robin justru mengatakan, siapa pun di dunia ini bisa jadi pemimpin. Memimpin bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan bagi orang yang tak punya jabatan penting. Dalam bukunya, Sharma melibatkan dua orang tokoh sentral dalam membahas  konsep kepemimpiannya. Dia adalah Blake Davis (29) dan Tommy Flinn (77). Blake Davis adalah mantan tentara yang pernah dikirim ke Irak. Pengalaman buruknya selama menjadi tentara membuatnya trauma dan enggan menjalani hidup sebagai tentara setelah keluar dari tugas militer. Sehingga, ia kembali menjadi seorang sipil dan bekerja di sebuah toko buku. 
Di tengah kekalutannya, Blake bertemu seorang bernama Tommy Flinn yang mengaku sebagai teman mendiang ayahnya. Tommy juga bekerja di toko tempatnya bekerja. Dia berusaha menularkan semangat agar Blake bisa menjalani hidup dengan baik, terutama dalam rutinitasnya sebagai karyawan toko buku.
Tommy mengaku, kalau sejak dulu dia hanya karyawan biasa. Di usianya yang sudah senja-sudah lewat waktu pensiun-dia tak tertarik dengan jabatan apa pun di perusahaan tempatnya bekerja. Padahal, banyak tawaran dan kesempatan agar Tommy menjadi manajer yang bisa menikmati segala fasilitas kantor, termasuk mobil perusahaan dan seluruh tanggungan hidupnya. Tapi, semuanya ditolak.
Blake penasaran, apa yang membuat Tommy tak tertarik menjadi seorang pemimpin dalam perusahaan. Dengan sabar Tommy menjelaskan bahwa, segala elemen dalam perusahaan itu bisa jadi pemimpin, tanpa harus punya jabatan. Untuk berhasil, semua orang harus melihat diri mereka sebagai bagian tim kepemimpinan (hlm. 20).
Apa yang kira-kira terjadi pada suatu simfoni jika satu saja pemainnya sumbang dan kurang andal berkesenian? Tentu, musiknya akan buruk dan semuanya berantakan. Tak ada peran yang sepele. Hal ini juga berlaku dalam bisnis. Tommy menjelaskan, satu-satunya cara agar semua organisasi-dan manusia, dalam hal ini-bertahan dalam masa perubahan revolusioner ini adalah dengan menggunakan model kepemimpinan baru yang revolusioner. Model ini menciptakan lingkungan dan budaya yang menuntut semua orang menjadi pemimpin.
Lebih lanjut, Tommy menambahkan bahwa semua orang itu perlu menghasilkan inovasi. Semua orang perlu menginspirasi teman satu tim, merengkuh perubahan, dan perlu bersikap positif. Semua orang perlu mengerahkan diri untuk unjuk yang terbaik. Begitu mereka lakukan itu, organisasi tak hanya beradaptasi dengan indah dalam kondisi yang berubah-ubah, tapi juga menjadi yang terdepan di bidangnya (hlm. 21).
Lewat buku 264 halaman ini, Robin Sharma menyodorkan konsep kepemimpinan yang tidak biasa. Dia ingin menegaskan bahwa, menjadi pemimpin itu ada seninya, ada rahasianya, dan semua orang memilikinya. Semua orang punya kekuatan alami untuk memimpin dan tidak ada kaitannya dengan jabatan tinggi, berapa umur mereka, atau di mana mereka tinggal. Siapa pun dan di mana pun di dunia ini, dapat melangkah ke arena dan mengemban tanggung jawab untuk memicu perubahan, mengungkap kehebatan, dan unjuk kepemimpinan.
Robin menegaskan, jika mau mengoptimalkan diri, semua orang punya sumber potensi kepemimpinan. Kepemimpinan tak ada hubungannya dengan apa yang seseorang dapat atau di mana dia duduk. Kepemimpinan lebih menyangkut secerdas apa seseorang bekerja dan sepiawai apa dia berperilaku. Tujuannya adalah berkarya hebat-di tempat dia berada.
Luar biasa.

Berikut data  pustaka selengkapnya :
Judul : The Leader Who Had No Title
Penulis : Robin Sharma
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2019
Tebal : xii + 264 Halaman

ISBN : 9786022915065

Monday, 6 May 2019

Stasiun Kereta Api Sentolo bukti sejarah yang masih utuh

stasiun sentolo lamaSENTOLO.COM - Kereta api adalah salah satu bukti sejarah yang nyata terkait dengan penguasaan bangsa Eropa di Nusantara. Meskipun model kereta api yang ada pada masa lalu sudah tidak lagi beroperasi sebagai sarana transportasi masyarakat karena sudah digantikan dengan kereta api modern, namun tapak tilas sejarah perkereta apian masih bisa kita lihat mulai dari bangunan stasiun, jalur rel yang terbangun, jembatan kereta, dan terowongan kereta api. Salah satu stasiun kereta api yang masih menunjukkan bangunan aslinya pada masa sekarang ini adalah Stasiun Sentolo. Silahkan kalau anda ada waktu senggang bisa datang ke stasiun ini yang sangat mudah dijangkau karena terletak di pinggir Jalan Nasional Jln Wates Km 17 Sentolo, Kulon Progo.

Stasiun Kereta Api Sentolo (STL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Sentolo (Hanacaraka: ꦱꦼꦠꦱꦶꦪꦸꦤ꧀​ꦱꦼꦤ꧀ꦠꦺꦴꦭꦺꦴ , Sêtasiyun Sentolo) merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di desa Sentolo, kecamatan Sentolo, Kulon Progo. Stasiun ini  berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 54 m di atas permukaan laut, dan merupakan stasiun kereta api kelas III. Bangunan Stasiun Sentolo ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. 

stasiun kalimenur
Stasiun Kalimenur
Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Yogyakarta-Maos yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1877 sebagai lanjutan dari proyek jalur Solobalapan-Yogyakarta. Jalur sepanjang 155 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Yogyakarta di sebelah timur menuju ke Maos di sebelah barat. Gaya bangunan Stasiun Sentolo memiliki kemiripan dengan Stasiun Solo Kota, Stasiun Sukoharjo dan Stasiun Wojo dengan  kekhasan berupa ventilasi bulat dengan terali besi kotak-kotak. Stasiun ini memiliki 2 jalur dengan jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus, menuju ke Stasiun Kalimenur ke arah selatan dan menuju ke Stasiun Sedayu ke arah utara terus ke timur. Kondisi stasiun Kalimenur saat ini sangat memilukan, sudah tidak terpelihara dan dirusak vandalisme tangan-tangan jahil seperti terlihat pada foto di atas.

Stasiun Sentolo kini
Saat ini di Stasiun Sentolo ini sudah tidak tampak lagi aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang, karena sudah tidak ada lagi kereta api yang berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi persusulan antarkereta api saja. Namun dari segi perawatan fisik bangunannya, Stasiun Sentolo ini masih beruntung ketimbang stasiun di sebelah selatannya, yaitu Stasiun Kalimenur yang sudah tidak digunakan lagi sejak tahun 1974, sedangkan ke arah timur stasiun ini, terdapat bekas Stasiun Sedayu yang juga sudah tidak aktif sejak tahun 1990-an.

Di selatan stasiun ini terdapat perlintasan sebidang, sehingga stasiun ini selain untuk melayani persusulan antarkereta api juga melayani pengontrolan palang perlintasan sebidang. Namun, sejak tanggal 7 Desember 2017, perlintasan sebidang ini resmi ditutup, sehingga stasiun ini sudah tidak lagi melayani pengontrolan perlintasan sebidang.Stasiun ini adalah salah satu dari enam stasiun kereta api kelas III yang tetap mempertahankan bangunan aslinya setelah jalur ganda Kutoarjo–Yogyakarta beroperasi.

Thursday, 2 May 2019

Properti murah dan strategis yang perlu segera anda miliki.

SENTOLO.COM - Pembangunan bandar udara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport saat ini sudah semakin nyata. Bangunan fisik landasan maupun gedung dan sarana lainnya sudah hampir mendekati selesai. Bahkan beberapa hari ini telah dilakukan uji coba landing maupun take off di landasan yang sangat representatif untuk sekelas bandara internasional. 

Kita tahu bahwa kedepan dengan adanya bandar udara internasional di Temon Kulon Progo ini tentunya akan membawa perubahan yang cukup signifikan, khususnya terhadap pertumbuhan kota di seputar bandar udara baik ke timur, barat maupun utara mendekati kota Wates. Salah satu hal yang akan mengalami pertumbuhan yang pesat adalah properti rumah dan tanah.
Bahkan beberapa bulan ini sudah mulai terasa munculnya permintaan maupun penawaran properti rumah dan tanah yang rata-rata tingkat harga sudah cukup mencengangkan.

Kami punya informasi yang mudah-mudahan bisa membantu anda yang saat ini tengah mencari rumah atau tanah dengan harga yang relatif lebih murah, namun akses ke Yogyakarta International Airport masih relatif mudah dan dekat. Silahkan simak beberapa alternatif penawaran kami di bawah ini :
  • Rumah Type 70 diatas lahan 253 m2
Tanah pekarangan sertifikat Hak Milik seluas 253 m2 berikut rumah tinggal dari tembok ukuran 70 m2 yang dilengkapi ruang tamu, 2 kamar tidur, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi.
Lokasi tanah dan rumah ini sangat strategis karena menghadap ke jalan desa yang lebarnya 3 meter, sehingga mobil anda bisa masuk. Apalagi akses menuju jalan aspal Kabupaten hanya 20 meter dan juga akses ke Jalan Negara cuma 100 meter dari lokasi ini. Jarak dengan kota Wates hanya 2 Km dan dengan Yogyakarta International Airport hanya 8 Km, jadi relatif sangat dekat dengan fasilitas umum perkotaan.

Beberapa fasilitas umum yang berdekatan dengan lokasi ini antara lain : Kantor KPP Pratama Kementrian Keuangan (500 m), Kantor Pengadilan Agama (700 m), SMP Negeri (1 Km), SPBU (2 Km), Terminal Angkutan Umum Antar Daerah/Propinsi (2 Km), Pasar Umum Daerah (2 Km), Bank BRI (2 Km) dsb.

Harga properti ini relatif sangat murah, cuma Rp.550.000.000.
Bila anda berminat untuk memilikinya silahkan hubungi kami di 087838353225 bisa melalui telepon, sms atau WA.


  • Rumah Type 250 diatas lahan 502 m2

Rumah tinggal yang sangat representatif dengan ukuran 250 m2 berada di lahan seluas 502 m2. Lokasi di desa Krembangan Kec Panjatan Kulonprogo. Properti ini juga sangat strategis karena berada tepat di pinggir jalan aspal Ka bupaten, dan dekat dengan fasilitas umum Sekolah dan perkantoran.
Lokasi ini memiliki udara yang segar alam pedesaan dan sangat cocok untuk hunian keluarga maupun untuk usaha warung / pertokoan.

Bagaimana dengan akses ke bandara Yogyakarta International Airport? Sangat mudah dan tidak jauh juga, cuma kurang lebih 12 Km dari lokasi ini.

Rumah dan tanah ini dibanderol harga : Rp.450.000.000.
Apabila anda berminat silahkan hubungi kami di 087838353225, bisa melalui telepon, sms atau WA.

jual tanah di kulonprogo, jual tanah di kulon progo, jual tanah di kulon progo yogyakarta, jual tanah di temon kulonprogo, jual tanah kebun murah di kulonprogo, jual tanah murah di kulonprogo, jual beli tanah di kulonprogo, jual tanah kulonprogo, tanah dijual di kulonprogo, jual tanah di wates kulon progo, jual tanah di nanggulan kulon progo, jual tanah di kulon progo jogja, jual tanah di pengasih kulon progo, jual tanah di sentolo kulon progo, jual tanah di lendah kulon progo, jual tanah kavling di kulon progo, jual tanah di galur kulon progo, tanah di jual di pripih kulon progo, jual tanah di wates kulon progo yogyakarta, tanah dijual bandara kulon progo, jual beli tanah di kulon progo, jual tanah kulon progo dekat bandara, tanah di jual di kulon progo, tanah di jual di wates kulon progo, jual tanah kavling kulon progo, jual tanah karang sewu kulon progo, jual tanah murah di kulon progo, jual tanah kulon progo olx, jual tanah dekat wates kulon progo, jual tanah kulon progo yogyakarta, tanah dijual di kulonprogo yogyakarta, tanah dijual di kulon progo jogja, jual tanah di temon kulon progo, tanah dijual di kulon progo olx, tanah dijual di kulon progo yogyakarta, jual tanah kulon progo, jual tanah kebun murah di kulon progo, dijual tanah murah di kulon progo, dijual tanah di galur kulon progo, 

Wednesday, 24 April 2019

Puskesmas Sentolo 1 siap layani masyarakat dengan sepenuh hati



raps1SENTOLO.COM - Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Adapun tujuan dari  diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Di tataran inilah peran Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama akan nampak.

Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan nasional  diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Puskesmas merupakan garda depan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar.  Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 75 tahun 2014 tentang ”Pusat Kesehatan Masyarakat”, merupakan landasan hukum dalam penyelenggaraan Puskesmas. Puskesmas yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.

Dalam upaya menjamin bahwa perbaikan mutu, peningkatan kinerja dan penerapan manajemen risiko dilaksanakan secara berkesinambungan, Puskesmas Sentolo 1 dilakukan re akreditasi oleh Komisi Akreditasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama dari Pusat yang dipimpin oleh Dwi Syaiful Nur Hidayat, SKM MM. Kegiatan ini dilksanakan sejak tanggal 22 sampai dengan 26 April 2019. Kepala Puskesmas Sentolo 1, dr. Susilo Pradyarto dalam keterangannya menyatakan bahwa Puskesmas Sentolo 1 siap untuk dilakukan re akreditasi pada tingkatan “Paripurna” bersama segenap karyawan/wati yang dengan penuh semangat disertai niat ibadah telah melakukan upaya peningkatan kualitas layanan baik melalui perbaikan sarana/prasarana, administrasi, maupun sistem layanan serta penerapan berbagai inovasi untuk mendukung terwujudnya Kecamatan Sehat.  


Indikator kecamatan sehat meliputi : lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu, serta derajat kesehatan penduduk kecamatan. Untuk mendukung kecamatan sehat salah satu upaya yang dikembangkan saat ini adalah dengan adanya Desa Siaga, yang  salah satu indikatornya adalah adanya Pos Kesehatan Desa sebagai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM), dengan penggerakan masyarakat desa, dan sebagai upaya pertolongan pertama pada penyakit (P3P) dan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

Pelaksanaan re akreditasi dilakukan oleh surveyor eksternal dengan menggunakan standar yang ditetapkan Kementrian Kesehatan. Sebagaimana kita ketahui bahwa Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014  Pasal 39 ayat (1) mewajibkan Puskesmas untuk diakreditasi secara berkala paling sedikit tiga tahun sekali. Disamping itu akreditasi merupakan salah satu persyaratan kredensial sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bekerjasama dengan BPJS, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional Pasal 6 ayat (2).

Wilayah kerja layanan Puskesmas Sentolo i meliputi : desa Sentolo, desa Banguncipto, desa Kaliagung dan desa Sukoreno. Namun demikian sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama tentunya Puskesmas Sentolo 1 juga siap melayani dengan sepenuh hati semua warga masyarakat meskipun bukan warga desa-desa yang berada di wilayah kerjanya.  Anda ingin tahu lebih banyak tentang peningkatan mutu layanan Puskesmas Sentolo 1? Silahkan datang dan buktikan kenyamanan layanannya disana. Lokasinya pun sangat mudah dijangkau, tepatnya di sebelah utara lapangan desa Sentolo atau sebelah utara Pasar Desa Sentolo.

re akreditasi puskesmas adalah, workshop re akreditasi puskesmas, instrumen reakreditasi puskesmas, tahapan reakreditasi puskesmas, dokumen akreditas puskesmas, penilaian akreditas puskesmas, pengertian reakreditasi puskesmas, tujuan akreditas puskesmas, materi akreditasi puskesmas, panduan akreditasi puskesmas, strategi reakreditasi puskesmas, langkah reakreditasi puskesmas, komitmen akreditas puskesmas, syarat reakreditasi puskesmas, proses re akreditasi puskesmas, pelaksanaan akreditasi puskesmas, reakreditasi puskesmas adalah, re akreditasi puskesmas admen, persiapan reakreditasi puskesmas, puskesmas terakreditasi paripurna,

Friday, 22 February 2019

GERTAK PSN, gebrakan baru di Sentolo, Kulon Progo untuk atasi masalah DBD



SENTOLO.COM – Hari Jumat pagi tadi tanggal 22 Pebruari 2019, Kecamatan Sentolo telah mengawali Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk atau GERTAK PSN. Sebuah kebijakan baru Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo dalam upaya mengatasi masalah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang di awal tahun 2019 ini menunjukkan indikasi adanya peningkatan kasus di beberapa wilayah. Gerakan ini melibatkan berbagai pihak antara lain Kecamatan Sentolo, Puskesmas Sentolo 1 dan Sentolo 2, Polsek Sentolo, Koramil Sentolo, Pemerintah Desa se Kecamatan Sentolo, sekolah-sekolah di semua tingkatan serta warga masyarakat umum lainnya.

Selama 4 hari berturut-turut Tim Pokjanal Gertak PSN Kecamatan Sentolo akan mensosialisasikan Gertak PSN ke 8 Desa dengan metode siaran keliling ke lokasi-lokasi strategis, antara lain di komplek kegiatan masyarakat seperti pasar, sekolah, pemukiman padat penduduk dan pusat pelayanan masyarakat. Diharapkan dengan sosialisasi ini keterlibatan masyarakat akan semakin nyata dan bisa merespon kebijakan ini untuk diterapkan sebagai perilaku hidup sehari-hari, khususnya terkait bagaimana mengelola lingkungan tempat tinggal mereka agar tetap bersih dan sehat bebas dari nyamuk.

GERTAK PSN memang sangat penting untuk segera dilaksanakan, karena fakta menunjukkan bahwa secara nasional, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) semakin bertambah. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, jumlah kasus DBD per 29 Januari 2019 mencapai 13.683 dengan jumlah meninggal dunia 133 jiwa. 
Ternyata jumlah tersebut terus bertambah ditandai dengan jumlah kasus DBD hingga 3 Februari 2019 yang mencapai 16.692 kasus dan 169 orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Kasus terbanyak ada di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, dan Kupang.

GERTAK PSN ini pada prinsipnya mengajak masyarakat dan semua lembaga baik pemerintah maupun swasta untuk peduli dengan kebersihan lingkungan dengan melaksanakan kegiatan 3M Plus yaitu : segala bentuk kegiatan pencegahan seperti 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

PSN perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan dan pancaroba, karena meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, sehingga seringkali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) terutama pada saat musim penghujan.
Selain PSN 3M Plus, sejak Juni 2015 Kemenkes sudah mengenalkan program 1 rumah 1 Jumantik (juru pemantau jentik) untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat Demam Berdarah Dengue. Gerakan ini merupakan salah satu upaya preventif mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) dari mulai pintu masuk negara sampai ke pintu rumah.

Terkait dengan program 1 rumah 1 jumantik ini di wilayah Kecamatan Sentolo tengah dirintis untuk menjadikan para siswa sekolah sebagai juru pemantau jentik nyamuk di rumah masing-masing. Para siswa akan melaporkan hasil pemantauan mereka kepada guru kelas masing-masing. Dari hasil pemantauan para siswa ini akan menjadi bahan evaluasi Tim Pokjanal DBD dalam mengambil langkah-langkah penanganan lanjutannya.

Monday, 18 February 2019

Indahnya Taman Bendung Kamijoro Tuksono saat sepi di pagi hari



SENTOLO.COM - Bendungan Kamijoro memang masih belum resmi dibuka, namun sudah banyak didatangi oleh para pengunjung. Sebagai daya tarik wisata baru di Yogyakarta, Taman Bendungan Kamijoro saat ini mulai berbenah dan melengkapi fasilitas-fasilitas pendukung. 




Source IG @jingglangaphe
Source IG by @dhian_hardjodisastro


Thursday, 14 February 2019

Bendung Kamijoro yang milenial dan cetar membahana


SENTOLO.COM, Kulonprogo – Taman Bendung Kamijoro, sebuah destinasi wisata baru yang berlokasi di Kaliwiru, desa Tuksono, kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, saat sekarang ini setiap hari selalu dipadati pengunjung. Pada hari biasa, bisa mencapai 3000-an pengunjung, dan pada hari libur bisa mencapai 5000-an pengunjung. Fantastis bukan? Percaya atau tidak, itulah faktanya.
Sungguh luar biasa memang!!. Fenomena ini belum pernah belum pernah terjadi di sepanjang pengembangan pariwisata di Kabupaten Kulonprogo. Sangat diluar dugaan, begitu obyek ini dibuka untuk umum, destinasi wisata baru ini langsung cetarmembahana, membuat ribuan orang jadi kepo sehingga terjadi ledakan jumlah kunjungan wisata mencapai 3000 - 5000 orang per hari.
Ini benar-benar terjadi, di Bendung Kamijoro, Tuksono, Sentolo, kabupaten Kulonprogo, DIY. Demikian menghipnotis-nya Bendung Kamijoro, hingga setiap unggahan foto-foto selfie pengunjung di lokasi wisata ini selalu viral.
“Ini sih gila banget, kayak cendol aneka warna, luar biasa berjubel pengunjungnya. Aku sampai susah cari angel buat bikin foto dan video,” kata Ajik, salah seorang pengunjung asal Bantul, Yogyakarta.
“Nggak ada loh kunjungan wisata baru, cuma sebuah bendungan lagi, demikian buanyak yang dateng, woouww,” ungkap beberapa pengunjung yang berkomentar di media sosial.
Kalau kita lihat di beberapa situs dan grup medsos memang banyak kita temukan foto-foto dan video yang menarik dan membuat banyak orang makin tergiur datang ke lokasi ini. Memang luar biasa banyak pengunjung setiap  harinya. Ribuan orang mengelilingi Bendung Kamijoro, dengan rasa takjub. Berfoto ria, selfie, ngevlog atau sekedar jalan-jalan mengelilingi are taman.
Bendung yang baru selesai dibangun dan merupakan salah satu  proyek rangkaian pembangunan Bandara Internasional Baru Yogyakarta di Temon, Kulon Progo yang menurut informasi akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo besok April 2019 mendatang, tiba-tiba menjadi instagramable.
Bukan itu saja. Setiap video kunjungan wisata Bandung Kamijoro, selalu viral di media sosial. Foto-foto kemeriahaan di seputar Bendung Kamijoro, menambah penasaran banyak orang.
Ngomong-omong, Bendung  Kamijoro ini mulai, dibangun pada tahun 2016 dengan anggaran total sebesar Rp 239 miliar. Sampai bulan Pebruari ini sebenarnya obyek ini masih dalam proses penyelesaian pembangunan. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa II, Juwaidi mengungkapkan, meski jumlah kunjungan ke bendung cukup membludak namun pihaknya tidak terlalu khawatir.
Dengan catatan, semua pengunjung ikut sama-sama menjaganya demi kebaikan bersama. “Demi kelestarian bangunan kami berharap agar wisatawan bisa ikut saling menjaga keamanan dan keutuhan, sehingga bendung bisa tetap berfungsi untuk irigasi secara maksimal,” ucap Juwaidi
Menurut Juwaidi, Bendung Kamijoro direncanakan mampu  mengairi areal persawahan periodik dan berkelanjutan. Luas areal persawahan yang dapat diari melalui bendung ini mencapai 2370 hektare. Bendung, ini terbangun berkat usaha warga yang tak jemu-jemu  mengusulkan pembangunannya.
“Di tahun-tahun sebelumnya telah memang telah dibangun Bendung Sapon yang hanya mengairi areal di Kabupaten Kulonprogo. Bendung Kamijoro adalah impian dari masyarakat dua kabupaten yakni  Bantul dan Kulonprogo,” terangnya.
Juwaidi menambahkan, bendung akan diserahterimakan secara resmi ke Pemda DIY setelah masa pemeliharaan berakhir. Ia berpesan agar Pemda menyiapkan tenaga khusus minimal dua orang untuk dilatih bagaimana menjalankan dan mengoperasikan pintu-pintu yang ada di bendung secara benar.
“Minimal dua orang untuk diajari cara mengoperasikan pintu-pintu secara benar dan baik, juga diajari bagaimana cara merawatnya,” tambah Juwaidi.

Thursday, 7 February 2019

Lebih jauh tentang Bendung Kamijoro yang bikin kepo banyak orang

Kamijoro Park 

SENTOLO.COM - Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul memiliki sebuah Pintu Air yang telah berada sejak abad 19. Pada awalnya pintu air ini dibangun oleh seorang seorang pengusaha pabrik gula keturunan Belanda Jerman (tidak diketahui nama) karena melihat pada saat itu daerah Pajangan, Srandakan, Kretek dan Sanden selalu mengalami kekurangan air.

Orang sekitar biasa menyebutnya "Ngantru Kamijoro" atau "Intake Kamijoro". Intake berasal dari bahasa Inggris yang berarti Pipa Masuk atau Pintu Air yang biasa digunakan untuk pengairan. Dengan berjalannya waktu warga sekitar menyebutnya dengan Dam Kamijoro.
Di lokasi ini terdapat sebuah prasati di bagian depan Intake Kamijoro yang bertuliskan tentang waktu pertama kali dibuat pada 28 Februari 1924 dan selesai pada 1939 tertanda Sri Sultan HB VIII dan Gubernur Belanda P.W Jonquiere. Dan Dam Kamijoropun dijadikan Warisan Budaya pada tahun 2008 oleh Sri Sultan HB X yang ditujukan kepada Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A) Kabupaten Bantul dan disekitarnya dibuatkan taman kecil dengan naman Taman Belanda.

Intake Kamijoro terletak di Dusun Plambongan Desa Triwidadi Pajangan Bantul membelah Sungai Progo sepanjang 69 km dari arah Timur ke Selatan. Sungai Progo yang terkenal memiliki arus deras dan memiliki hulu dari Kaki Gunung Sindoro Wonosobo dan bermuara di Laut Selatan wilayah Pandansimo Srandakan Bantul. Intake atau Dam ini memiliki fungsi utama sebagai pengairan untuk segala kebutuhan warga saat itu seperti untuk pertanian dan perkebunan dan terus terpakai hingga sekarang. Warga sangat terbantu dengan adanya Intake ini terlebih saat ini Pemerintah Pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sedang membangun Intake menjadi sebuah bendungan besar dengan nama Bendungan Kamijoro.

Dilansir melaui web Kementrian PUPR bahwa proyek Bendungan Kamijoro ini dikerjakan sejak tahun 2016 dan ditargetkan akan selesai pada 2019 dengan memakan biaya sekitar 200 milyar lebih. Dan nantinya diharapkan Bendungan Kamijoro dapat mengairi 2.370 hektar persawahan warga sekitar Bantul yang berdampak meningkatnya produksi pertanian rakyat.
Sungatno warga sekitar mengatakan,” Dengan adanya bendungan ini mudah-mudahan daerah Pajangan dan sekitarnya tidak akan kekeringan lagi seperti sekarang,sumur rumah dan sawah kering akibat kemarau ini,” ujarnya saat diwawancara dilokasi Intake Kamijoro,

Selain untuk mengairi persawahan di wilayah Kabupaten Bantul, dengan dibangunnya kembali bendungan Kamijoro ini juga akan memberikan pasokan air bersih ke Kulon Progo. Rencananya pasokan air ke Kulon Progo akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di New Yogyakarta International Airport dan kawasan peruntukan industri Sentolo.

Bangunan bendungan yang baru juga menarik minat banyak orang untuk ingin tahu lebih dekat ke lokasi yang juga telah dilengkapi dengan taman rekreasi dengan desain yang eksotis. Dari lokasi taman baru ini para pengunjung bisa memandang sungai Progo dan alam sekitarnya dengan lebih leluasa. Bisa selfie di beberapa spot yang menarik tentunya.

Keindahan arsitektur Taman Bendung Kamijoro di Kaliwiru desa Tuksono ini telah menjadi pembicaraan yang ramai di media sosial online dan bahkan video-video tentang Taman Bendung Kamijoro ini telah menjadi viral di dunia maya. Tidak heran jika beberapa minggu ini terjadi ledakan pengunjung ke obyek wisata baru ini.

Bagi anda yang ingin membuktikan keindahan pemandangan taman di pinggir sungai Progo ini bisa datang ke lokasi dari beberapa jalan, antara lain melalui Jln Yogya - Wates Km 18 pas traffic light perempatan Ngelo ke timur sampai Kaliwiru, atau melalui jalan Brosot - Lendah menuju Kaliwiru. Saat ini hanya dua jalur jalan inilah yang cukup representatif bagi anda yang menggunakan sarana transportasi kendaraan roda empat maupun roda dua.

Tuesday, 29 January 2019

Bedah rumah simbah Poniyem di pedukuhan Salam desa Salamrejo Sentolo

SENTOLO.COM - Bedah rumah merupakan program unggulan Kabupaten Kulon Progo yang sangat unik. Bedah rumah menjadi media untuk bergotong royong warga masyarakat Kulon Progo dalam membantu sesama warga yang dirasa perlu bantuan, khususnya dalam mewujudkan rumah tinggal yang layak dan sehat.
Bantuan bedah rumah juga digalang dari Badan Amil Zakat Nasional Kulon Progo, dana CSR perusahaan yang ada di wilayah, serta sumbangan langsung warga masyarakat baik dana maupun tenaga dan pikiran.
Bedah rumah dilaksanakan setiap hari Minggu dengan bergiliran dari satu Desa ke Desa lainnya yang perlu bantuan.
Salah satu rumah yang dibedah pada tanggal 29 Januari 2019 lalu adalah rumah simbah Poniyem yang berlokasi di pedukuhan Salam desa Salamrejo kecamatan Sentolo KULON PROGO. Rumah ini telah roboh diterjang angin pada awal musim penghujan tahun 2018 lalu.

Thursday, 24 January 2019

CERAMAH FULL GEERRR DOKTER H Agus Ali Fauzi PGD Pall Med (ECU) Terbaru

Dokter H Agus Ali Fauzi PGD Pall Med (ECU) memiliki gaya tersendiri dalam memberikan pengetahuan tentang kesehatan, tentang penyakit dan cara menghindari atau mengatasinya. Gayanya yang penuh humor menjadikan audiens lebih mudah menangkap informasi dokter yang super GEERR ini.
Jangan lupa LIke & Subscibe ya.....